Sejarah Desa

            Desa Sijenggung, sebuah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian petani ini cukup unik dan jarang terdengar. Kemunculan nama Desa Sijenggung sendiri memiliki latar belakang peristiwa yang jarang diketahui oleh khalayak umum.

       Sesepuh Desa Sijenggung menjelaskan mengenai asal muasal terbentuknya Desa Sijenggung berdasarkan pengetahuan yang ia miliki. Bahwasanya Desa Sijenggung dahulunya adalah sebuah “Jagat Suwung Ingkang Pinanggih Surya Candra Kartika” yang bisa diartikan sebagai alam semesta yang kosong atau tidak berpenghuni. Diriwayatkan sekitar tahun 520-600th pada masa Kerajaan Majapahit ada dua orang pengembara yang merupakan Abdi dalem Pemanahan atau cucu dari Jaka Tingkir yang melakukan pengembaraan ke Bukit Sampir dan menetap di sebuah area perbukitan yang saat ini dikenal dengan nama Kuburan Budha. Kedua pengembara tersebut bernama Ki Ageng Tumenggung Buntung dan Ki Andong Geseng.

           Lokasi pertama Kuburan Budha yang mereka diami adalah sebuah pelataran kosong di atas bukit. Akan tetapi seiring berjalannya waktu area tersebut mengalami penyempitan dan salah satu dari mereka harus pindah ke lokasi lain yang berada di lembah bukit atau tepatnya di sebuah batu besar. Adalah Ki Agung Tumenggung Buntung yang memutuskan untuk pindah ke batu besar tersebut dengan membawa hewan peliharaannya berupa seekor ular besar yang ia beri nama Candra Wercana. Konon ceritanya ular tersebut hanya akan keluar dari batu pada malam selasa kliwon dan jumat kliwon apabila warga sekitar bersedia menyiapkan sesajen berupa kembang boreh (campuran bunga yang warnanya serba putih dengan parutan dlingo dan bengle) dan sejenisnya.

        Di batu itu juga terdapat sebuah alat musik jawa berupa Gong (Sejenis alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul) dan menghasilkan bunyi dengan nada “Gungggggg” yang biasa digunakan warga pada saat ada perayaan atau hajatan. Hingga pada suatu masa ketika ada perayaan di sebuah hajatan, Gong tersebut tidak mau berhenti berbunyi dan warga sekitar mengganjalnya dengan Jenang (Panganan manis yang terbuat dari santan kelapa dll). Mengetahui hal itu Ki Agung Temenggung Buntung marah dan memindahkan Gong tersebut ke Kedung Watu Jomplang di Tebetan Sionje daerah Purbalingga. Dari nada Gong yang dihasilkan itulah akhirnya tercipta nama Desa Sijenggung.

           Sementara itu, pada suatu hari Ki Endong Geseng merasa kehausan dan berjalan ke arah barat batu untuk memetik buah Poh. Setelah memakan buah poh tersebut, Ki Endong Geseng membuang dua biji buah secara terpisah. Satu sisi jatuh dan berubah menjadi hewan kecil yang sering disebut sebagai hewan Rispoh dan yang satu sisi lainnya tumbuh menjadi sebuah pohon yang dibawahnya terdapat muara air atau Tuk. Muara atau Tuk tersebut sampai saat ini dikenal dengan nama "Tuk Poh”. Air dari Tuk Poh ngrancah atau mengalir ke arah lembah dibawah Bukit Sampir menjadi 7 bagian sehingga dikenal dengan nama Tuk Pitu dan berakhir atau tempur di Sungai Raga Jaya.

            “Semuruping banyu Ngepoh mlebu dadi Tuk 7 njuk ngrancah semurupo njembual notog kali Raga Jaya lan Ngepoh” Tutur Sesepuh Desa.

           Dari peristiwa alam tersebutlah menghasilkan dua nama dusun yang terdapat di Desa Sijenggung, yaitu Dusun Semurup dan Dusun Tempuran. Di Lokasi pertemuan arus air itulah ditemukan sebuah batu besar yg oleh warga sekitar disebut batu Totogan.

            Dari kejadian tersebutlah yang akhirnya membuat Desa Sijenggung terbentuk hingga saat ini, dan dikenal dengan masyarakatnya yang guyub rukun serta menjunjung tinggi keanekaragaman yang ada. 18/10/2019

Narasumber By: Sesepuh Desa Sijenggung.

<video controls="controls" width="600" height="240"> <source src="https://www.sijenggung-banjarnegara.desa.id/assets/../desa/upload/media/videoplayback%20(16).mp4" type="video/mp4"></video>

vidio lengkap :https://www.youtube.com/watch?v=4wKA3K_wf50&t=1s

 

Sejarah Pemerintahan Desa Sijenggung

  1. Bongkot                          Tahun 1925 – 1945
  2. Asmasemita                   Tahun 1945 – 1955
  3. Kartadimeja                    Tahun 1955 – 1967
  4. Kasmuji                          Tahun 1967
  5. Soewardji                       Tahun 1967 – 1990
  6. Tono Supnaryo              Tahun 1990 – 2007
  7. Sarman                          Tahun 2007 – 2013
  8. Marman                         Tahun 2013 – 2019
  9. Dwi Utami Anik Z. S.Ip  Tahun 2019
  10. Suyono                          Tahun 2020 – 2025

Tulis Komentar